Jumat, 17 Oktober 2014

Rumah Kos-Kosan

Mungkin kalian pernah tinggal di rumah kosan? Tahu dong bagaimana suasana di dalamnya. Masing-masing orang sibuk dengan urusannya sendiri. Mereka gak keluar kamar kalau gak ada kepentingan. Penghuninya pun kalau saling bertemu hanya sekedar sapa basa-basi. Ya, gak heran mereka punya kepentingan sendiri.

Lalu bagaimana jika suasana rumah kosan itu berpindah jadi berada di dalam rumah kita. Semenjak ada penghuni baru, rumah yang dulunya hangat dan asik jadi berasa rumah kos-kosan. Kalau lagi ngekos beneran sih gak apa. Tapi ini bukan rumah kos-kosan!

Menjadi seorang istri memang sesuatu yang tidak mudah. Ehh, terus apa hubungannya kos-kosan sama istri? Sebenarnya ada sedikit kaitanya. Seorang istri bisa saja membuat suasana rumah menjadi seolah rumah kos-kosan kalau dia gak mau berusaha membaur dengan keluarga suami. Mending kalau di rumah cuma berdua sama suami. Tapi kalau ada keluarga lain jadi berasa rumah kos-kosan deh.

Ini adalah gambaran betapa wanita itu mengerikan. Dalam sekejap bisa membuat seorang laki-laki menjadi tunduk kepadanya. Maka dari itu sebagai wanita kita harus menjadi istri yang baik. Kalau kita menjadi istri yang kurang baik maka kita bisa menyeret suami kita ke dalam dosa besar.

Jangan sampai suami menjadi durhaka pada ibu hanya karena berusaha berbuat baik pada istri. Tapi kemudian suami dan istri lupa kalau suaminya juga harus berbuat baik pada ibunya.

Menjadi istri yang baik memang sulit tapi bukan gak mungkin. Dalam Islam banyak sekali kriteria istri yang baik. Tapi dalam bentuk nyatanya kita bisa berkaca pada Kadhijah radhiyallahu 'anha  istri Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meski istri Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam gak cuma Kadhijah radhiyallahu'anha. Tapi istri yang paling berkesan bagi Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Kadhijah radhiyallahu'anha.


Tapi yang kali ini ingin saya soroti bukan cerita biduk rumah tangga Rasululloh shollallahu'alaihi wa sallam. Ilmu saya masih kurang untuk meceritakan semua ini secara shohih.

Istri yang baik salah satunya adalah bisa membaur dengan orang tua suami. Karena menikah gak hanya menikahi anaknya tapi seluruh keluarganya akan menjadi keluarga sang istri juga. Hal yang paling saya sering temui adalah cekcok antara istri dan mertua. Kadang istri gak bisa terima kalau suami berbuat baik pada sang ibu. Padahal ibunya lah yang telah membesarkannya hingga dia bisa menjadi suaminya.

Menjadi istri yang baik juga gak hanya bisa melayani suami tapi juga mendorong suami berbakti pada orang tua. Karena orang tua adalah segalanya. Sangat disayangkan jika istri malah menjadi pemicu retaknya hubungan silaturahmi suami dengan orang tuanya, terutama ibunya.

Lalu apakah saya sendiri sudah menjadi istri yang baik? Mungkin belum tapi bukan berarti gak bisa. Saya sendiri dan mertua sudah akrab, meski memang kadang ada yang gak cocok. Bukan berarti harus bertengkar. Saya lebih suka diam jika ada hal yang gak saya sukai. Mertua saya pun sudah mengerti jika saya diam tandanya apa.

Saya sendiri pernah mengalami ketika suami saya seolah lebih mencintai saya ketimbang ibunya. Tentu buru-buru harus diingatkan bukan malah berbangga diri lalu membuat suami lupa pada ibunya. Kadang memang laki-laki agak aneh. Dia lebih mencintai wanita yang baru saja menjadi istrinya ketimbang wanita yang telah melahirkannya.

Saya maklum sih, cinta memang membutakan tinggal kitanya mau melek atau tetep buta. Sebagai istri yang baik kita gak boleh sampai membuat suami lupa. Saya melihat sendiri bagaimana seorang suami diperdaya istrinya hingga dia lupa ibunya. Miris dan sakit rasanya. Kasihan sekali sang suami, menikah gak membuat dia semakin baik tapi menjadi buruk.

Menurut saya ini sangat penting, karena ini menyangkut hak orang tua. Maka sebagai istri yang baik memang harus mengingatkan berbakti pada orang tua. Jangan sampai dia lalai kemudian suami pun lalai.

Saya gak ingin menghakimi siapa pun saya cuma curcol sambil ikutan giveaway, hehe. Saya belum jadi istri yang baik tapi masih berusaha menjadi baik. Jadi wahai para istri janganlah kecintaan suamimu pada mu melalaikan dia dari hak orang tuanya. Sungguh sakit rasanya jika suatu saat hal itu berbalik menimpa dirimu.

Tulisan ini diikutkan Giveaway Istri yang Baik



4 komentar:

  1. Belum pernah tinggal di kooooss :'(

    BalasHapus
  2. saya gak pernah ngekos, sih. Tapi, memang katanya, suami itu walopun sudah menikah tetep menjadi anak ibunya. Makanya istri justru gak boleh melarang kalau suami mendahulukan ibunya. Sedangkan perempuan kalau sudah menikah menjadi milik suami

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang begitu aturannya tapi kadang istri lupa, seolah2 suami hanya miliknya.

      Hapus
  3. Hm .... iya benar. Hak seorang ibu kepada anaknya tetap lebih besar daripada hak istrinya.

    Terima kasih ya sudah ikutn GA kami :)

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.

© 2012 JuvMom - Juvenile Mom's Stories | Powered by Blogger | Design by Enny Law