Jumat, 02 Januari 2015

Hamil Diam-Diam

Setelah beberapa waktu lalu sempat keguguran, ternyata sekarang isi lagi, Subhanallah. Lumayan cepat digantinya,hehhe. Aisyah yang sekarang umur sebelas bulan insyaAlloh bakal punya adek. Kehamilan ketiga ini bikin saya agak cemas karena sebelumnya keguguran. Saya takut keguguran lagi.

Tapi kadang saya menghibur diri. Kalau memang janin ini ditetapkan untuk lahir dengan selamat maka gak akan ada yang bisa mencegah. Dengan begitu kekhawatiran saya jadi berkurang. Memang sih kehamilan saya yang sekarang mungkin akan sedikit dapat celaan. Alasannya karena jarak yang terlalu dekat. Saya dituduh gak sayang Aisyah gara-gara hamil lagi. Kalau gak sayang mungkin Aisyah udah saya tenggelamkan di sungai, hehehe. Tapi kalau mau dengerin kata orang dijamin hidup gak akan tenang. Kadang kita juga harus tuli dari perkataan orang-orang yang bisanya cuma mencela.

Saya berencana untuk melahirkan di Purwokerto bersama ibu saya. Supaya saya lebih nyaman. Karena kalau di Surabaya kami masih tinggal di rumah ibu suami saya dan ada adeknya juga cowok-cowok. Jadi risih banget kalau lahiran kedua ini di Surabaya. Ibu saya juga menyarankan untuk ke Purwokerto saja supaya lebih nyaman.

Kehamilan ketiga ini sengaja gak saya beritahu siapa pun dari keluarga suami. Karena saya sudah tahu responnya bakal kayak apa. Bukannya takut, cuma gak mau denger omongan yang bakal nyakitin hati. Takutnya nanti saya keceplosan ikut ngomong jelek. Nanti malah bikin rusak suasana.

Kadang lucu ketika orang-orang menyuruh kami punya anak hanya sedikit. Padahal orang yang menasehati punya anak empat. Tapi koar-koar pada kami untuk punya sedikit anak. Mungkin sebenarnya mereka menyesal punya anak sampai empat, hehe. Saya memang menolak KB dari awal. Gak peduli mau dibilang apa sama orang. Saya dan suami memang ingin punya banyak anak. Paling-paling kami hanya menjaga jarak kelahiran anak kami, bukan membatasi.

Punya banyak anak itu berarti punya tanggung jawab besar. Karena mendidik anak bukan hal mudah. Tapi untung agama Islam ini agama sempurna. Jadi saya tinggal mencontoh dari panduanya yaitu Quran dan Hadist. Tapi sepertinya orang-orang yang menceramahi kami ini bukan khawatir pada pendidikannya. Melainkan takut gak bisa kasih makan anaknya kalau kebanyakan. Padahal rejeki sudah dijamin.

Saya lebih memilih untuk tersenyum jika mereka menasehati kami. Kalau pun saya bicara maka akan percuma. Kami hanya dianggap bocah ingusan. Kadang memang ingin saya balas dengan kata-kata yang akan membuat mereka heran. Tapi lagi-lagi percuma mereka nanti yang emosi.

8 komentar:

  1. semoga sehat selalu ya kehamilannya

    BalasHapus
  2. Selamat utk kehamilannya yah enny, semoga lancar sampai persalinan..

    Anak itu rezeki insya Allah, dan mudah2an membawa kebaikan utk kedua orangtuanya.. barakallah ya.. aamiin

    BalasHapus
  3. Idem dah... aku dan suami juga menolak KB sejak awal menikah, rencananya punya anak banyak, jika Allah berkehendak, cuma memang di jarak aja, enggak idj batesi, aturannya siaoa kb itu :D, selamat ya atas kehamilannya, semoga membawa banyak barokah.. aamiin...

    BalasHapus
  4. Alhamdulillah, selamat ya mba. Senangnya Aisyah mau punya adek. Moga sehat terus yaa

    BalasHapus
  5. disyukuri aja, alhamdulillaah... ^ ^
    ini trimesterawal, bed rest ya?

    BalasHapus
  6. Selamat En, buat kehamilan ketigamu..semoga sehat trs ibu n baby n aisyah n sekeluargamu..

    Kalau kamu aja sanggup kenapa ribet mikirin anggepan org.

    BalasHapus
  7. mudah2an dilancarkan dan disehatkan ya .....

    BalasHapus
  8. Ooo jd ini dedek ke tiga... Ya org emang beda2 mbak el, hanya karena kalian pasangan muda bkn berarti gak bs ngurus anak. Smoga diperlancar ya kehamilannya

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.

© 2012 JuvMom - Juvenile Mom's Stories | Powered by Blogger | Design by Enny Law