Jumat, 29 Mei 2015

Keluarga Harmonis Bukan Tidak Pernah Ribut

Bisa dibilang saya memang masih baru dalam urusan rumah tangga. Saya menikah baru dua tahun lebih. Menikah di umur yang masih mudah memang membuat orang sekitar meragukan apakah saya bisa membangun rumah tangga dengan baik. Sebenarnya umur bukanlah patokan seseorang bisa membangun rumah tangga dengan baik. Meski sudah tua pun banyak juga orang yang kawin cerai. Semua itu tergantung seberapa dewasa orang tersebut. Umur muda bukan berarti belum dewasa.

Meski saya belum bisa dikatakan dewasa. Ibu saya masih saja bilang saya dan suami masih seperti anak kecil. Tapi setidaknya dalam mengarungi rumah tanga kami berusaha bijak dan merujuk semua masalah pada Al Quran dan sunnah. Sehingga meski masih muda sejauh ini kami masih bisa menangani masalah rumah tangga kami dengan baik. Tanpa orang tua kami harus ikut campur.

Mungkin orang berfikir karena umur pernikahan kami yang masih tergolong muda. Dua tahun memang masih dikatakan penganten baru,masih hangat-hangatnya. Belum banyak cobaan menerpa pernikahan kami, mungkin begitu pikir orang. Tapi bukankah banyak orang yang juga gak bisa mempertahankan rumah tangganya meski hanya dua tahun? Jadi perlu disyukuri umur pernikahan kami. Apalagi kami masih sama-sama dianggap anak kecil.

Saya merasa lucu ketika orang berumah tangga dan gak ingin dalam rumah tangganya sampai ada keributan. Ini sama seperti pengen makan pedes tapi gak pengen kepedesan. Semua hal pasti ada resikonya. Jika berumah tangga tapi gak ingin ada keributan maka menikahlah dengan boneka. Saya yakin gak bakal ribut. Tapi kalau nikahnya masih sama manusia pasti bakalan ribut. Menghindari keributan dalam rumah tangga bukan berarti pasangan tersebut harmonis.

Saya rasa keharmonisan gak bisa dicapai dengan menghindari keributan. Justru saya merasa keributan dari permasalahan rumah tangga bisa menambah keharmonisan. Kok bisa gitu? Saya merasa tiap kali kami bertengkar lalu kami baikan, saya merasa justru semakin sayang dengan suami. Tentu saja ini karena masalah diselesaikan dengan baik. Beda lagi kalau masalah diselesaikan dengan masalah. Mungkin malah jadi benci. Di situlah peran penting Al Quran dan sunnah. Kami punya pedoman yang sama jadi kami tunduk pada pedoman itu bukan pada ego masing-masing.

Jika dalam berumah tangga gak ingin ada keributan dan malah sering menghindari keributan, saya yakin salah satu pasti akan ada yang merasa tersiksa. Karena salah satu pihak pasti akan mengalah demi menciptakan kedamaian semu. Atau menuruti mau pasangan yang bertolak belakang dengan hatinya hanya demi menghindari keributan. Membayangkannya saja membuat saya merasa gak nyaman. Untung saja saya dan suami memang berusaha berkomunikasi sebaik mungkin. Bermusyawarah pada tiap masalah, bahkan masalah milih celana dalem pun pakai acara musyawarah, lebay banget gak sih, haha.

Jujur saja saya ini bukan orang yang lemah lembut bisa dibilang malah saya ini kasar sekali. Justru suami saya yang orang Maduralah yang sikapnya lemah lembut terhadap saya. Saya bersyukur suami saya gak pernah memperlakukan saya dengan kasar meski marah tetap saja berusaha sabar. Jadi sebagai manusia yang masih punya hati nurani saya merasa bersalah jika berbuat kasar pada suami. Sehingga lambat laun saya merubah beberapa sikap. Meski saya gak tahu apa suami saya masih merasa saya ini kasar atau gak.

Jadi berumah tangga juga butuh kepekaan. Ketika pasangan menunjukan sikap baiknya terhadap kita bukan seharusnya kita memanfaatkanya dan malah melunjak. Mentang-mentang suami sabar, terus-terusan bikin kesel. Justru saya gak tega kalau lihat suami saya yang sabar banget menghadapi saya. Kadang merasa saya ini jahat banget.

Menjadi suami yang baik bukan hanya sekedar dapat memenuhi kebutuhan materi. Tapi juga bisa mendidik istri menjadi istri yang baik. Wanita memang bengkok, jika diluruskan bisa patah. Tapi sebengkok-bengkoknya apa gak ingin supaya terlihat agak lurus? Itulah yang sering saya katakan pada diri saya. Supaya saya ini gak terlalu mengabaikan kekurangan saya. Tapi berusaha memperbaikinya sehingga meski masih ada keburukan, seenggaknya mulai berkurang.

Sebenarnya saya menulis seperti ini bukan karena sok-sokan mau nyeramahin orang. Hanya saja saya bingung dengan keadaan seseorang. Saya gak bisa menasehatinya lantaran mudhorotnya jika saya bicara akan lebih banyak dari pada manfaatnya. Jadi hanya bisa tertuang dengan tulisan gak jelas. Sekaligus menjadi instropeksi supaya saya gak sampai jadi seburuk itu.

12 komentar:

  1. keributan kadang menambah warna dalam kehidupan ya mbak, asalkan nggak ribut melulu, ntar malah jadi surem semua.... :)

    BalasHapus
  2. Yes, setuju banget mbak!
    Soalnya kalau nggak ngambek, suami gak bakalan keluarin rayuan mautnya dong hahaha.... ^_<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wekeke, iya mba, klo gak ngambek gak dirayu2 dong :D

      Hapus
  3. Kalau nggak ada masalah malah jangan2 lagi diem2an? Hehehee....

    BalasHapus
  4. harus ada keseimbangan ya Mbak?

    tapi, bayangan di benak saya, yang namanya ribut itu, kaya anak kecil yang lempar-lemparan itu.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mbak.
      haha, mungkin karena anak2 memng identik dengan keributan :D

      Hapus
  5. Semua yg sudah dilalui memang petut disyukuri, Enny... semoga langgeng selalu ya... yakin sm Allah.. :)

    BalasHapus
  6. ribu-ribut dikit terus mesra lagi ya :)

    BalasHapus
  7. Jd kalo gak ribut pasti aneh ya. Sama aja jalan kok gak ada kerikil

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.

© 2012 JuvMom - Juvenile Mom's Stories | Powered by Blogger | Design by Enny Law