Minggu, 08 November 2015

Aqiqoh Anak Kedua

Si Pipi Gembil
Hari ini adalah hari di mana kami mengaqiqohi anak kedua kami yang sudah meninggal. Kenapa masih diaqiqohi padahal sudah meninggal? Ada pertimbangan dari segi syariat. Kalau ingin tahu bisa lihat di artikel ini. Lagi pula saat itu kami memang sudah bernazar akan mengaqiqohi anak kedua kami. Malah kami sudah memesan aqiqohnya di tempat langganan kami. Hanya saja H-1 dari hari aqiqoh anak kami meninggal. Dan uang untuk aqiqohnya terpakai untuk biaya rumah sakit.

Qodarulloh, meski kambingnya katanya sudah disebelih kami tetap diperbolehkan membatalkan aqiqohnya. Orangnya bahkan sampai telfon tanya keadaan anak kami. Lalu selang beberapa hari tanya lagi tentang anak kami. Saat kami beri tahu anak kami sudah meninggal, dia kelihatan sangat kaget. Bayangkan saja sebelum hari H anak kami meninggal. Semua orang termasuk tTeman-teman suami yang diundang ke rumah akhirnya bukan disuguhi hidangan aqiqoh tapi malah kabar duka. Rencana manusia memang sekedar rencana.

Hari itu juga rasanya saya hancur berkeping-keping. Tapi kemudian saya mulai takut sendiri. Takut jadi orang yang melampaui batas karena kesedihan.

Perkara ini hal sepele. Gak bener-bener sepele sih, saya hanya menghibur diri. Kalau diingat-ingat masih lebih banyak nikmat yang saya dapatkan. Jadi kenapa harus bersedih ketika satu nikmat diambil. Hal itulah yang selalu saya tanamkan meski sebenarnya sulit sekali.

Hal yang makin membuat saya kesal adalah kehamilan anak kedua ini gak diharapkan banyak orang. Saya semakin benci lagi ketika anak kami meninggal. Saya merasa marah kepada orang-orang yang bermulut pedas. Gak tahu aneh aja kenapa saya marah gitu. Kemarahan saya ini agak aneh. Saya sampai hampir benci dengan bude dari suami. Sepertinya saat itu saya memang agak konslet, haha.

Tapi semua itu sudah takdir. Semua itu adalah hal yang harus saya imani. Berbaik sangka pada Sang Pencipta. Itu lebih baik dari pada meratapi kepergian anak kedua kami. Saya ingin punya anak lagi tapi rasanya masih maju mundur. Jadi lebih baik pasrah saja. Tulisan ini ngelantur gak jelas. Huft saya sepertinya mendadak galau!

14 komentar:

  1. Semoga Allah membantu meringankan hatimu ya mbak.

    BalasHapus
  2. mendoakan apapu yang terbaki ya kapanpun adiknya Aisyah ada.

    BalasHapus
  3. Inna lillah wa inna ilaihi raji'ub. Turut berduka, ya Mbak .. baru tahu kabar duka itu. Alhamdulillah sudah bisa tegar kembali. Barakallah, dia akan menunggu di pintu surga

    BalasHapus
  4. Semoga dimudahkan untuk ikhlas ya, en. Lebih cepat ikhlas, insya Allah lebih cepat ada gantinya. :)

    BalasHapus
  5. kangen Hafsoh....

    2 adeknya Aisyah kan jaminan surga buat Mb En

    BalasHapus
  6. Semoga yang terbaik buatmu ya Mbak,

    BalasHapus
  7. salut dengan ketegaran hatimu mbak, percayalah dengan rencana terindah Allah dibalik semua ujian yang dilalui. Salam hangat dari Kudus :)

    BalasHapus
  8. Innalillahi.... Turut berduka Mbaaa. Semoga Allah berikan buah hati berikutnya...

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.

© 2012 JuvMom - Juvenile Mom's Stories | Powered by Blogger | Design by Enny Law