Senin, 04 April 2016

Renungan Dari Kematian

Dua hari yang lalu, tetangga kami yang sudah sekarat dua hari meninggal. Sebelumnya beliau pernah periksa ke dokter dan dokter bilang bahwa umurnya sudah gak panjang lagi. Lalu tetangga kami ini shock. Qodarulloh, sekitar beberapa minggu sejak perkataan dokter itu tetangga kami meninggal. Saya memang gak menjenguknya, bukan karena gak mau. Tapi rumahnya sudah dipenuhi sanak saudara. Dan saya gak tega melihat orang yang sedang menghadapi sakaratul maut. Gak perlu sampai melihat, mendengar kabarnya saja sudah bikin saya uring-uringan. Padahal beliau bukan saudara saya.

Beliau meninggal hari Sabtu pagi. Gak ada isak tangis yang terdengar. Mungkin keluarganya sudah lelah menangis semenjak beliau sekarat. Saya hampir menangis mendengar kabar itu. Tetangga saya ini memang punya banyak penyakit. Sudah lama sekali beliau berjuang melawan penyakitnya ini.

Kematian memang menyeramkan, apalagi kita gak pernah tahu apakah bekal yang kita bawa untuk menyambut kematian sudah cukup atau belum. Beruntunglah jika ternyata sudah punya cukup bekal. Dan celakalah jika ternyata gak punya bekal untuk menemani menjemput kematian. Setiap ada kematian di dekat saya, memang saya mendadak merasa takut. Bukan takut dihantui tapi takut kesulitan saat ajal datang menjemput. Sudah selayaknya memang tiap hari berdoa agar diberikan kematian yang baik dan mudah.

Mentalqin Lebih Baik Dari Pada Sekedar Membacakan Al Quran

Beruntunglah orang-orang yang meninggal dan sanak saudaranya mengerti bagai mana memperlakukan orang yang hendak menjemput maut. Saya cukup miris ketika beliau sedang menghadapi sakaratul maut dan anaknya datang ke rumah kami dan bertanya, surat apa yang bisa dibaca untuk menghantar orang mati. Saya gak bisa menjawab. Mungkin karena ilmu saya cetek. Saya gak pernah tahu surat khusus yang harus dibaca untuk orang yang sakaratul maut. Saya mengajarkannya untuk mentalqin, membisikan kalimat tahuid. Saya mengingatkan, takutnya mereka lupa atau gak tahu. Mirisnya, mendengar kata-kata itu, dia membuang muka dan bertanya pada orang lain di rumah kami. Klasik banget jawaban orang rumah, bacain Yasin.

Saya gak benci surat Yasin. Masalahnya surat Yasin adalah bagian dari Al Quran. Saya hanya sebel dengan orang yang selalu memakai surat Yasin untuk kematian. Padahal surat dalam Al Quran banyak, kenapa Yasin? Dan tahu gak sih, ketika seseorang menghadapi maut, maka yang paling penting adalah membisikan kalimat tauhid, "Laailaahaa Illallah".

”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih no. 1621)

Saya gak tahu apa mereka mentalqin beliau atau gak. Saya gak ingin berurusan dengan mereka dalam masalah ini. Tapi tiap yang meninggal pasti mereka ingin di akhirat hidup di surga bukan di neraka. Maka sudah sepantasnya kalau selain membacakan Al Quran juga mentalqin orang yang sekarat.

Tradisi yang Menyulitkan

Pasti dari kalian tahu yang namanya Tahlillan? Saya merasakan adta di sekitar rumah mertua saya ini cukup merepotkan. Bagai mana gak, setelah tuan rumah mengalami musibah, mereka masih harus masak untuk orang-orang yang malamnya tahlilan. Memang banyak yang bantu tapi duitnya kan dari si tuan rumah. Bahkan tahlilannya bukan cuma sehari dua hari. Tapi tujuh hari berturut-turut. Saya bertanya-tanya, kalau orang yang meninggal ini orang yang gak punya uang, gemana jadinya ya? Anehnya di sekitar rumah si tuan rumah yang tertimpa musibah ini para tetangganya justru gembira karena bisa makan-makan gratis.

Saya tadinya gak pengen menerima makanan dari mereka. Tapi saya gak bisa bersikap terlalu keras. Mau gak mau saya makan sekedar menghormati masakan mereka. Bukan karena tradisi mereka yang menyulitkan. Gak peduli para orang yang pro tahlillan mau bilang apa. Selain karena bid'ah, kalau dipikir dengan logika tradisi mereka ini menyulitkan orang yang tertimapa musibah. Bahkan ketika anak kedua kami meninggal dan saudara kekeh mau pakai tahlillan, saya berlepas diri dari mereka. Gak ada sepeser uang pun yang saya keluarkan untuk acara mereka. Alhasil tahlilannya cuma tiga hari aja. Pasti mereka gak akan kuat kalau harus menyelenggarakan acara sampai tujuh hari dengan uang mereka sendiri. Dan tahu alasan mereka kenapa tetep harus tahlillan? Mereka takut diomongin orang. Jadi bukan karena ingin mendoakan mayit. Tapi takut dengan omongan orang.

Saya gak ingin berdebat mengenai dalil tahlillan, saya bukan ahlinya. Cuma silahkan dipikir sendiri aja. Kalau kita berada di posisi orang yang tertimpa musibah, apa kita gak merasa kesulitan harus mengeluarkan banyak biaya untuk acara yang bahkan gak dicontohkan Rasul shallallahu ’alaihi wa sallam atau sahabat Nabi. Sesuatu yang datangnya bukan dari Islam pasti menyusahkan. Bukannya saya pelit, kalau itu sesuatu yang baik insyaAlloh saya ikuti. Lagi pula kenapa gak disedekahkan aja uangnya atas nama orang yang meninggal?

Setiap yang Bernyawa Akan Mati

Kematian memang bukan hal yang bisa dicegah. Kita sudah ditakdirkan akan mati kapan. Jangan pernah menunda sholat tanpa udzur yang syar'i. Kita gak pernah tahu kapan maut akan menjemput. Jika ada orang yang kita cintai meninggal, jangan terlalu diratapi. Sedih memang hal biasa tapi jangan berlebihan. Saya tahu bagai mana sakitnya ditinggal anak kedua kami. Sampai hari ini pun masih sedih. Tapi saya berusaha untuk gak meratapi. Sebuah renungan bagi diri saya sendiri bahwa kematian sebetulnya menghantui siapa pun. Kematian sudah ditakdirkan. Gak ada satu orang pun di dunia ini yang bisa mematikan orang lain tanpa seijin Alloh. Mudah-mudahan kita diberi kematian yang khusnul khotimah.

6 komentar:

  1. kalau sudah ngomongin mati aku jadi merinding mak

    BalasHapus
  2. Mentalqin itu susah, en. buat yang basicnya udah lupa cara ngaji. Jadi memang harus diulang2 terus. Aku sempet ngeri juga ngeliat kucingku mati aja sekaratnya kayak gt, apalagi manusia yang pastinya beda dibanding hewan. Semoga aja ketika kita meninggal, khusnul khatimah dengan cara yang ahsan. aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru karena susah itu makannya harus terus diulang. Kan masih ada kemungkinan kalau tiba2 diakhir hidupnya megucapkan kalimat tauhid. Takdir orang gak ada yang tau kan? hiiii

      Hapus
  3. Pagi ini sempatin ngelayat temannya nyokap yang hidup sendirian dirumahnya, jam 10 semalam masih bercanda dengan teman-teman pengajiannya, dan minta foto buat kenang2an katanya, sedih seklai liat foto keluarganya dimana anak dan suami beliau sudah duluan berpulang, membayangkan beliau meninggal sendirian dan siapa yang menemukan beliau wafat pagi tadi masih belum tahu, untunglah segera diketahui dan warga bahu membahu membantu sambil mengabari keluarga ..beliau.. jadi bertanya2 sendiri bagaimana kelak takdir akhir hidup kita ya,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kita semua termasuk orang2 yg akhir hidupnya khusnul khatimah

      Hapus

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.

© 2012 JuvMom - Juvenile Mom's Stories | Powered by Blogger | Design by Enny Law