Kamis, 12 Januari 2017

Aisyah Belajar Naik Sepeda


Gak kerasa bulan depan Aisyah tepat umur tiga tahun. Banyak banget perkembangan yang saya rasakan dari Aisyah. Mulai dari makin pintar bicara sampai sudah bisa mengendarai sepeda roda tiga. Memang tahun lalu Aisyah sempat meringik karena melihat temannya punya sepeda. Tapi saat itu Aisyah belum bisa mengendarai sepeda karena memang belum punya, haha. Alhasihl masih minjem punya temennya. Itu pun kadang gak boleh sama temennya. Jadilah Aisyah nangis-nangis. Rasanya nelongso banget lihat Aisyah nangis minta sepeda. Dasar emak baper, haha.

Karena Aisyah memang belum bisa mengendarai sepeda, saya jadi mikir-mikir, sepeda tipe apa yang kira-kira cocok untuk Aisyah. Apalagi setahu saya, kalau belum bisa mengendarai sepeda mengayuh itu berat sekali. Akhirnya setelah dipikir-pikir saya punya ide untuk beli sepeda roda tiga yang bahannya dari plastik itu loh. Tadinya pengen beli ke toko sepeda aja. Eh ternyata dapet voucher belanja. Jadinya belanja sepeda online aja deh. Saya tanya ke penjualnya katanya sepeda itu muat dikendarai hingga anak umur lima tahun. Jadi saya percaya saja dengan penjualnya. Eh taunya sampai di rumah, sepeda itu agak kekecilan untuk Aisyah yang saat itu belum genap tiga tahun. Jarak tempat duduk dan stangnya terlalu dekat. Jadi perutnya Aisyah agak mepet ke stang.

Belum lagi ternyata saat dikendarai Aisyah sepeda tersebut bisa jomplang dengan mudah, haha. Waktu itu pernah kejadian Aisyah jatuh dari sepeda karena saya dorong. Saat itu memang sengaja saya dorong untuk memancing Aisyah mengayuh sepeda. Aisyah yang belum lihai mengendarai sepeda ternyata gak bisa mengimbangi saat hendak belok. Alhasil dia terjatuh dari sepeda. Untung aja gak luka, cuma saya malahan ngakak lihat Aisyah jatuh, haha. Emak macam apa ini, hehe.

Bahkan sampai sekarang pun saya masih melihat sepeda itu seperti tidak kokoh saat dikendari Aisyah. Sangkin Aisyahnya sudah pinter mengimbangi jadi gak pernah jatuh lagi. Tapi maklumlah, kan harganya murah. Gak sampai dua ratus ribu, haha.

Tapi lama kelamaan dia pintar mengendarai sepeda sendiri tanpa harus didorong terlebih dahulu. Bahkan sekarang suka ngebut di rumah. Belum lagi nabrakin orang dan ngelindes kaki, haha.

Mandiri? Harus Dong!

Setelah melihat Aisyah pintat mengayuh sepeda, saya ingin sekali membelikan Aisyah sepeda roda dua. Supaya dia beneran bisa mengendarai sepeda. Pengalaman saya sendiri yang gak bisa mengendarai sepeda memang membuat saya gak ingin mengulangi hal yang sama ke anak. Ya kebayanglah, mengendarai sepeda gak bisa, motor juga gak bisa, mobil gak punya, haha. Rasanya kalau kemana-mana jadi ketergantungan sama suami. Meski suami malah seneng sih jadi gak bisa keluar sendirian, haha.

Tapi rasanya gemes juga ketika suami sakit sedangkan saya gak bisa kemana-mana untuk beli keperluan suami. Otomatis malah ngerepotin orang lain. memang menjadi mandiri itu sebuat keharusan. Itulah mengapa saya dan suami gak ingin mengulangi hal yang sama terjadi pada anak kami.

Setelah jadi ibu saya jadi sangat sadar, menyayangi anak itu bukan dengan melayani semua kebutuhannya. Tapi kasih sayang yang sebenarnya adalah dengan mendidik anak supaya dia bisa mandiri dan punya akhlak yang baik. Meski saat mendidik anak mandiri kadang dapat cibiran dari orang-orang karena kesannya "kok tega banget". Tapi biarlah, repot kalau dengerin orang mulu, hihi.

Nah kalau kasih sayang versi kamu gemana?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.

© 2012 JuvMom - Juvenile Mom's Stories | Powered by Blogger | Design by Enny Law