Jumat, 08 September 2017

Tolong, Pahamilah Anak Kecil!

Postingan ini sebenernya unek-unek karena kemarin Aisyah rewel saat dibawa ke acara pengajian saudara suami yang hendak menikah. Kemarin itu rasanya saya ingin marah dengan orang-orang yang memojokan Aisyah. Kultur di sekitar saya ini memang cukup aneh. Jiksa seorang anak memiliki adik, entah kenapa kakaknya selalu dibully. Saya juga heran mengapa hal itu sering terjadi. Bukan hanya pada Aisyah, tapi anak-anak seumuran Aisyah yang punya adik sering diperlakukan semena-mena.

Hal yang paling saya benci ketika mereka bilang "nagisan" atau kata-kata serupa. Siapa sih anak yang gak nangis ketika mereka diganggu? Apakah orang-orang ini waras ya? Entahlah, saya juga gak ngerti.

Jadi ceritanya kemarin itu Aisyah didekati oleh kakak ibu mertua saya yang biasa dipanggil mbah oleh Aisyah. Mereka memang jarang ketemu, Aisyah juga takut dengan beliau karena ada kekurang pada fisik beliau. Ya, salah satu matanya diangkat sehingga kelopak matanya dijahit. Dan Aisyah takut dengan beliau karena hal itu. Meski sudah berkali-kali saya jelaskan kalau mbahnya itu sakit, tapi Aisyah tetap saja takut. Namanya juga anak kecil sih, saya merasa itu wajar. Karena memang bagi anak kecil hal itu terlihat menakutkan.

Nah si mbah ini memang gemes dengan Aisyah, sehingga berusaha untuk mendekat dan berbicara dengan Aisyah. Tapi namanya juga anak takut, akhirnya Aisyah menangis gak karuan. Hingga sulit sekali ditangani. Si mbah pun menyerah dan memilih melihat Hamzah. Dan sejak insiden itu Aisyah jadi bad mood. Belum lagi ditambah orang-orang sekitarnya mengganggunya dengan berpura-pura ingin mengambil adiknya. Memang pada awalnya Aisyah tahu kalau orang-orang hanya bercanda. Tapi karena sedang bad mood Aisyah malahan jadi nangis. Dia melarang orang-orang untuk menggendong Hamzah. Tapi ya tetep digendong sana-sini. Saya mau menolak gak enak sendiri karena orangnya itu gak punya anak dan ingin menggendong bayi. Dilema banget kan, huft. Tak hanya itu, orang-orang semakin membully Aisyah dengan kata-kata yang gak enak.

Sikap mereka yang terlalu mengistimewakan Hamzah itu bisa berdampak buruk pada hubungan Aisyah dan Hazmah, itu yang saya takutkan. Padahal saya selalu berusaha memberikan pehatian yang sama. Tidak membandingkan Aisyah meski dia sedang memangis dengan kata-kata, "itu lihat Hamzah gak nangis" atau kata-kata serupa. Saya lebih suka berkata, " Kakak jangan nangis nanti dedek Hamzah ikutan sedih." Kata-kata itu membuat Aisyah memiliki ikatan dengan adiknya bukan merasa dibanding-bandingkan. Biasanya kata-kata itu sukses membuat Aisyah reda tangisannya. Tapi tadi malam hal itu gak berlaku karena sudah kadung dibanging-bandingkan dengan Hamzah yang saat itu sedang anteng.

Pengen saya tegur tapi kok saya takut mereka bilang berlebihan. Jadi suami hanya bilang, "Jangan gitu mba, kasian Aisyah." Tapi percuma, orang-orang itu gak peduli malahan makin diganggu. Coba deh mereka itu adek saya, sudah tak tabokin dari tadi, err. Sayangnya mereka itu orang-orang yang harus saya jaga perasaannya sebagai saudara. Meski mereka gak tahu diri untuk melakukan hal sebaliknya. Memang gak semua orang di sana membully Aisyah, tapi kebanyakan melakukan itu, terutama orang-orang dari golongan antah berantah. Qodarulloh, tuan rumahnya mengerti dan menengahi.

Karena drama terlus berlanjut, saya bergegas pulang. Toh acara sudah selesai saya bisa lepas dari orang-orang yang kurang akal dalam menghadapi anak keci.

Saya heran, mengapa banyak sekali orang di sekeliling saya yang gak bisa menempatkan anak kecil sebagai anak kecil. Kenapa anak-anak ini dipaksa bersikap seperti orang dewasa. Mereka pikir dulu waktunya kecil mereka gak nangisan? Atau selalu berkelakuan baik? Bisa gak sih mereka mengerti anak kecil yang sedang dalam mood jelek? Cukup jangan diganggu, jangan mengeluarkan kata-kata gak penting yang menjurus pada bullying verbal. Ah entahlah, saya ini berlebihan atau mereka yang kelewatan.

Mulai sekarang saya ingin tegas pada orang-orang macam ini. Entah mengapa kemarin malam itu rasanya saya lelah mendiamkan orang-orang yang terbiasa bersikap buruk pada anak kecil. Mereka kelewatan, sangat kelewatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.

© 2012 JuvMom - Juvenile Mom's Stories | Powered by Blogger | Design by Enny Law