Jumat, 24 Oktober 2014

Ketika Sesama Ibu Saling Bully

Bullying atau kekerasan ternyata gak cuma terjadi dikalangan anak remaja aja. Bahkan para emak pun kadang sering mem-bully. Jadi gak heranlah kalau anak SD aja udah bisa nge-bully orang. Saya dulu juga sempat berfikir saat seorang ibu meninggalkan anaknya untuk bekerja adalah sebuah keburukan. Sampai saya menjadi seorang ibu barulah mengerti.

Dulu saya beranggapan buruk karena yang saya amati di sekitar saya, banyak anak yang terlantar karena ditinggal kerja ibunya. Tapi ternyata gak semuanya seperti itu. Sama halnya dengan manusia, pasti ada sisi jelek dan bagusnya. Gak semua ibu yang bekerja menelantarkan anaknya. Mereka punya cara sendiri untuk mengurus anaknya. Setiap cara yang berbeda hasilnya juga beda. Ibu rumah tangga pun ada yang melantarkan anaknya. Jadi ibu rumah tangga atau pekerja ya sama- sama ada sisi buruknya. Gak adilah kalau ibu bekerja yang buruk dibandingin ibu rumah tangga yang baik.

Di Islam sendiri gak melarang secara mutlak wanita untuk bekerja. Meski ada batasan syar'i yang gak boleh dilanggar. Manfaatnya wanita bekerja salah satunya agar sepeninggal suami sang istri gak terlantar. Bukan kah banyak janda yang akhirnya kesulitan mencari nafkah sepeninggal suami?

Bahkan saya juga mengalaminya, saat ayah saya meninggal. Ibu saya bingung mau usaha apa untuk menghidupi keluarga. Alhamdulillah, Alloh Maha Adil. Alloh memudahkan rejeki kami dari kakak saya. Sehingga ibu saya gak perlu lelah mencari uang.

Beruntung jika kisah hidupnya seperti saya. Kalau enggak? Pastilah istri yang bakal kesulitan jika sampai suami meninggal duluan. Bukannya doain loh ya. Tapi hanya jaga-jaga saja. Kematian itu kan pasti hanya saja gak tahu kapan mau jemput.
Jadi gak selamanya menjadi ibu pekerja itu buruk. Dan bersyukurlah jika bisa jadi ibu rumah tangga dan mengurusi anak full time.

Bayangkan saja kalau gak ada guru perempuan. Maka anak perempuan kita siapa yang mau didik. Kalau guru laki-laki tetap saja beda masih lebih nyaman dengan guru perempuan. Kalau gak ada suster atau dokter perempuan, siapa yang mau merawat kita? Masa suster atau dokter laki-laki? Masyarakat kita juga tetap butuh pekerja wanita. Karena untuk melayani wanita itu sendiri. Jadi janganlah meremehkan para ibu yang bekerja.

Bekerja atau gak itu sebuah pilihan. Saya memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan tetap berusaha belajar berdagang dari rumah. Bukan untuk menyaingi penghasilan suami. Seperti yang saya bilang barusan sekedar untuk jaga-jaga jika ada hal yang gak diinginkan. Lagi pula gak ada salahnya belajar berdagang. Toh belajar berdagang membuat saya jadi lebih hemat. Karena tahu cari uang gak gampang. Jadi mengeluarkannya pun gak bisa semaunya.

Seharusnya sesama ibu gak saling bully. Ibu bekerja juga punya cara untuk tetap mengasuh anaknya sambil kerja meski gak bisa seperti ibu rumah tangga. Lagi pula apa untungnya mem-bully sesama ibu? Apa dengan begitu para ibu pekerja bakal berhenti bekerja. Gak juga kan. Kalau mau menasehati pun caranya harus yang benar. Bukan malah nyiyir atau bully. Kita kan gak tahu kondisi mereka seperti apa.

Berhentilah membully sesama ibu. Secara gak langsung anak-anak pun jadi mengikuti apa yang kita lakukan. Jadi ketika anak kita melakukan kesalahan. Bisa jadi kita secara gak langsung mengajarkannya. Posting ini sekaligus terguran untuk saya karena sempat memandang sebelah mata seorang ibu yang bekerja. Tapi ternyata setelah dipikirkan lagi gak semuanya buruk. Marilah kita saling menghargai sesama ibu. #StopMomWar

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Every Mom Has A Story #stopmomwar

8 komentar:

  1. Saling menghargai pilihan masing -masing seorang ibu aja ya

    BalasHapus
  2. Benar sekali. Coba kalo gak ada dokter perempuan, terpaksa kondisinya darurat terus ya ....

    Sukses ya GAnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, bisa2 aku gak akan mau ke dokter kandungan kalau dokternya cwo semua :D

      Hapus
  3. Semua manusia sebenernya berusaha terbaik dalam jalan masing masing ya mam

    BalasHapus
  4. betul mak, karena anak2 akan mencontoh apa yg ibunya lakukan

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.

© 2012 JuvMom - Juvenile Mom's Stories | Powered by Blogger | Design by Enny Law