Rabu, 20 Januari 2016

Menjadi Orang yang Mudah Dipahami Pasangan

Menjadi orang tua memang bukan perkara mudah. Menikah di usia mudah dan masih labil emosinya gini memang membuat saya awalnya agak kewalahan mengahadapi anak kami yang semakin besar. Sebelum menikah saya memang punya ketakutan besar karena takut gak bisa merawat anak. Kalau cuma merawat faktanya saya sih bisa. Buktinya si gembil ini sejauh ini Alhamdulillah sehat dan berat badannya selalu masih berada digaris normal. Tapi untuk perkara seperti mendidiknya ini kadang saya masih meragukan diri sendiri.

Pasal saya bukan orang yang berperangai halus atau pun sabar. Tapi semenjak punya anak saya berusaha menjadi orang yang halus dan menyelesaikan masalah tanpa harus ngamuk.

Belajar Berkomunikasi dengan Baik

Semenjak Aisyah sudah mengerti pembicaraan orang dia, memang lebih mudah dibilangin. Saya pun harus jadi orang yang cerewet. Padahal dulu kalau ngurusin anak saya bisu banget. Gak ada interaksi lisan sama bayi, haha. Sedangkan kalau lihat para eyang lagi ngurusin anak pasti sambil diajak ngomong meski bayinya gak ngerti.

Jadilah sekarang di rumah saya paling cerewet. Cerewetnya bukan karena ngomelin tapi lebih ke arah bernegosiasi dengan Aisyah supaya dia menurut atau mau berganti haluan. Berhubung Aisyah belum paham sepenuhnya yang saya katakan makan saya harus bersabar dengan pemahamannya. Seperti saat meminta dia mengambilkan barang. Makan saya harus sabar melihat si kecil ini memahami perkataan saya sambil mencari barang yang saya instruksikan. Kalau barangnya adalah sesuatu yang sudah dikenalinya sih mudah. Tapi kalau barang yang masih asing biasanya Aisyah bingung. Jadi saya memang harus maklum pada anak seumuran dia yang pemahamannya masih kurang. Namanya juga baru belajar, setidaknya Aisyah paham instruksi saya meski kadang barang yang diambil gak sesuai.

Saat Aisyah rewel pun saya harus jadi orang yang cuper cerewet untuk bernegosiasi dengan amarahnya. Intonasi suara pun harus dijaga supaya gak terdengar seperti orang marah. Karena kalau dimarahi maka Aisyah hanya akan semakin rewel. Jadi butuh negosiasi yang sangat halus untuk meredakan amarahnya. Salah satu caranya adalah membuat boneka beruang miliknya seolah sedang berbicara. Meski Aisyah tahu bonekanya gak bicara beneran tapi kalau sedang rewel biasanya dia pasti tertawa.

Pentingnya Komunikasi

Saya memang berusaha mengajarkan Aisyah untuk mengkomunikasikan apa yang yang keinginannya. Namanya juga manusia gak bisa baca pikiran, maka dari itu kita harus berlajar membuat orang paham. Itulah mengapa para cowok bingung dengan bahasa cewek yang suka kebalik-balik. Bilang iya tapi artinya enggak. Repot kan kalau gitu.

Suami saya pun meski mengerti apa yang saya inginkan tapi ngomongnya gak sesuai pasti ujung-ujungnya nurutin apa yang saya ucapin. Tapi seenggaknya hal itu membuat saya belajar, kalau ingin dimengerti maka permudah orang untuk mengerti. Cape dong kalau harus meraba-raba arti sebenarnya. Jadi selain membiasakan Aisyah berkomunikasi dengan baik saya juga membiasakan diri sendiri.

Komunikasi memang sesuatu yang penting pada setiap hubungan. Saya merasakan efek yang cukup besar mengernai komunikasi ini. Apalagi bagi orang yang sudah berumah tangga komunikasi hal yang sangat vital. Salah paham saja bisa jadi rempong.

6 komentar:

  1. Setuju.. spy komumikasi lancar, permudah org lain u mengerti kita, begitu jg sebaliknya. Salam kenal ^ ^

    BalasHapus
  2. haha, apalagi kalo ditanya lapar atau enggak :P
    kalo jawab enggak, siap2 kelaparan :D

    BalasHapus
  3. Aku ma suami jarang komunikasi. Apalagi LDR-an juga -,-

    BalasHapus
  4. wkwkkk... jadi ketawa bahasa cewe kebalik2. bener banget emang, Mak :D

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.

© 2012 JuvMom - Juvenile Mom's Stories | Powered by Blogger | Design by Enny Law