Pengalaman Berjualan Frozen Food Rumahan

Puasa-puasa gini memang bawaannya kepengen makan segala macem. Meski nanti pas sudah buka ternyata makan satu macam aja udah cukup. Dan puasa gini makanan yang sering banget dicari adalah gorengan, hihi. Padahal buka puasa pakai gorengan kan gak bagus juga. Tapi ya susah sekali lepas dari gorengan, haha.

Nah biasanya biar gorengan tetap aman dimakan lebih milih beli mentahnya terus digoreng sendiri. Biasanya beli frozen food, terus nanti digoreng dengan minyak sendiri yang lebih bersih.

Saya juga jualan frozen food loh, tapi masih belum macam-macam jenisnya. Hanya rujak cireng aja. Pernah sih bikin risoles mayo tapi males bikinnya agak ribet, hihi. Biasanya rujak cireng ini juga banyak diincar untuk cemilan buka puasa. Rasa gurih cireng dipadukan dengan sambal rujak yang pedas, manis, asam, cocok banget buat cemilan deh. Duh jadi ngilier, hihihi.

Meski rujak cireng buatan kami ini gak booming banget (efek marketingnya anget-angetan, wkwkwk), tapi lumayanlah rujak cireng ini banyak juga yang pesan. Dan karena bikinnya juga masih produksi sendiri rujak cireng Sakera gak bisa terima banyak pesanan. Gempor juga yang bikin kalau banyak pesanan. Memang ini usaha agak anget-angetan ya, antara mau maju males, mundur gak mau, ahahaha. Niat jualan apa gak ini sih ya, hehehe.

Tapi dari jualan frozen food rumah ini saya jadi punya pengalaman mengenai packaging untuk frozen food. Nah sedikit share ya pengalaman membuat packaging frozen food Cireng Sakera ini.

Memilih Plastik untuk Produk Frozen Food

Nah pas awal-awal bikin ide jual rujak cireng ini yang paling pertama dipikirin adalah kemasan. Ya kemasan memang menjadi hal yang cukup rumit ternyata. Karena frozen food, rujak cireng harus dikemas dengan plastik yang tahan dan gak sobek meski kena hawa dingin di freezer.
Kan ada tipe plastik yang bisa robek sendiri karena beku di freezer.


Tipe plastik yang cocok untuk produk frozen food adalah plastik yang kokoh, bukan plastik yang mudah pecah dan juga agak tebal dari plastik biasanya. Plastik yang saya pakai ini plastik PP Wayang ukuran 15 x 30 cm. Plastiknya bagus dan juga gampang dicari. Di toko plastik dekat rumah juga jual plastik ini. Jadi kalau habis dan butuh dadakan tinggal cus ke toko plastik dekat rumah.

Dan ternyata plastik ini terkenal bagus loh. Kata mertua saya plastik ini memang bagus. Mertua bilang gitu karena sering beli plastik untuk keperluan di rumah. Pernah beli merek lain ternyata gak sebagus PP Wayang ini.

Nah karena plastik ini dipakai untuk makanan, plastik PP wayang juga food grade. Bahaya juga kalau ternyata plastik mengandung bahan berbahaya saat bersentuhan dengan makanan. Bahan dari plastik PP Wayang terbuat dari biji plastik murni bukan daur ulang dan memiliki double seal, sehingga gak perlu khawatir jebol. Plastik PP Wayang ini juga punya sertifikat halal dari MUI. Ya mungkin maksudnya adalah suci (bersih) dari najis ya, karena plastik ini kan gak dimakan. Jadi kata yang tepat harus suci (bersih) dari najis bukan halal, kalau menurut saya.

Selain untuk mengemas frozen food, kadang plastik PP Wayang ini juga dipakai untuk mengemas makanan lain kalau saat ada keluarga yang datang terus mau bungkus makanan di rumah.

Ah iya, jangan lupa juga ya untuk tidak memakai plastik secara berlebihan. Karena memang gak bisa dipungkiri plastik memang kemasan paling praktis untuk mengemas sesuatu. Tapi ingat ya, terlalu banyak memakai plastik juga gak baik. Jadi kalau bisa meminimalisir penggunaan plastik, kenapa gak?


Label Produk Makanan

Setelah cari sana sini tipe plastik yang cocok, baru tahap selanjutnya adalah bikin stiker untuk kemasan. Stiker ini nantinya dipasang di bagian luar plastik supaya menarik. Berhubung suami pinter desain jadi saya gak perlu pesan desain stiker ke mana-mana. Cukup saya foto sendiri cirengnya dan suami yang buat desain. Memang sih gak terlalu eye catching, maklum ini yang jualan antar niat dan gak niat, wkwkwk.

Kami memilih pakai stiker karena ini yang paling ekonomis. Karena kalau pakai sablon plastik tentu jadi mahal. Nah stiker ini kan cukup murah tinggal diprint di kertas ukuran A3 dan dipotong-potong sudah cukup.

Pentingnya Desain Packing Sebuah Produk

Setelah berjualan cireng ini, memang saya jadi sering sekali memperhatikan packaging sebuah produk. Apalagi produk yang sudah punya nama. Karena packaging menjadi salah satu daya tarik pertama yang bisa membuat orang tertarik beli. Apalagi jika produk tersebut gak bisa dicicipi terlebih dahulu. Maka packagingnya haruslah menarik.

Untuk packaging Cireng Sakera memang masih banyak hal yang perlu dikoreksi. Tapi ternyata biaya packaging itu gak murah. Karena memang harga jual cireng kami murah yaitu paling mahal Rp 15.000 per bungkus, jadi kami menekan biaya packaging menjadi sederhana saja.
Kalau mau naik kelas ya memang harga cirengnya harus dimahalin untuk menutup ongkos packaging. Apalagi untuk produksi rumah seperti kami, memang kalau beli plastik eceran, tentu beda kan harga eceran dan juga harga grosir.


Dan gak hanya produk makanan, produk plastik seperti PP Wayang ini saja memperhatikan desain kemasan luarnya loh. Yang dulunya hanya diberi label kecil (sebelah kanan) sekarang diubah menjadi desain yang lebih menarik (sebelah kiri) dengan logo wayang dan sedikit pattern. Dan gak lupa beberapa label logo sebagai informasi kalau plastik PP Wayang sudah food grade, bersertifikat halal MUI, dan beberapa label lainnya.

Terus Berusaha Mengimprovisasi Produk

Meski penjualan cirengnya anget-angetan, karena yang bikin juga moody, hihi. Tapi cireng kami tetap berusaha eksis. Salah satunya di bumbu rujaknya pernah ganti resep yang lebih maknyus. Dan ternyata para pelanggan kami gak ada yang komplain, mereka tetap beli. Berarti improvisasi bumbu kami berhasil, hehehe.

Tadinya saya juga ingin membuat varian lain dari rujak cireng ini, seperti dibuat rasa keju atau apalah yang lebih enak. Tapi masih belum dieksekusi juga. Tampilan kemasannya juga ingin diubah terutama pada stikernya, supaya lebih fresh.

Nah kalau moms yang lain pernah juga kah berjualan produk makanan? Cerita dong, siapa tahu bisa jadi inspirasi.

1 komentar

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.