Toilet Training Hamzah


Mulai dari akhir tahun lalu, saya memutuskan untuk memulai toilet training pada Hamzah. Karena usianya sudah dua tahun lebih. Jadi seharusnya memang sudah pas untuk memulai toilet training.

Sebenarnya saya juga maju mundur untuk mulai toilet training. Karena bagaimana pun juga memulai toilet training berarti saya harus siap dengan konsekuensi mengepel lantai. Ini nih yang masih belum membuat saya siap mental dari kapan hari.

Apalagi dengan kondisi adik Hamzah yang masih kecil dan sering menyusu membuat saya jadi semakin gak siap untuk toilet training. Tapi lama-lama saya jengah dengan tumpukan popok yang selalu banyak setiap hari. Belum lagi adiknya juga masih pakai popok. Jadilah saya merasa harus siap untuk toilet training. Toh juga saya sudah lama sounding ke Hamzah untuk pipis di kamar mandi.

Awal Mula Toilet Training

Awalnya tentu saja drama banget. Hamzah menolak lepas popok. Dia merasa khawatir kalau gak pakai popok.

Hamzah menangis cukup lama karena minta pakai popok tapi gak kami turuti. Ada mungkin satu jam menangis, sampai akhirnya dia ingin pipis. Saya lalu cepat-cepat mengantar ke kamar mandi. Saat itu pipisnya keluar banyak sekali. Saya pun memberikan pujian karena sudah pipis di kamar mandi. Setelah itu Hamzah terlihat lebih percaya diri untuk gak pakai popok.

Berulang kali kami mensounding untuk pipis di kamar mandi sebelum toilet training ini. Tapi tetap kami harus legowo kalau masih di pipis sembarangan. Namanya juga masih belajar.

Tapi bersyukur sekali, di hari pertama toilet training dia hanya kecolongan pipis satu kali. Untuk malam hari dan tidur siang Hamzah masih dipakaikan popok. Ini sih murni karena saya ambil aman ya.

Soalnya momen tidur siang dan malam itu memang saya ingin istrirahat. Kalau bisa gak tergangung dengan Hamzah yang mendadak pipis, hiihi.

Oiya lucunya saat toilet training ini Hamzah gak mau pakai celana. Jadi benar-benar gak pakai apa-apa. Dan itu berlangsung selama beberapa hari. Sampai tiba-tiba dia sakit panas. Mungkin karena dia gak pakai celana dan sering bolak balik ke kamar mandi jadi sering kedinginan.

Membujuk Hamzah Pakai Celana


Cukup sulit untuk membujuk Hamzah untuk mau pakai celana. Hampir dua minggu Hamzah gak pakai apa-apa selama toilet training. Akhirnya saya keluarkan beberapa celana yang aslinya sudah gak muat sudah pendek sekali kalau dipakai. Tapi bahannya nyaman dan warnanya disukai Hamzah.

Saat melihat celana itu Hamzah tertarik untuk memakainya. Sampai-sampai gak mau lepas. Dilema banget kan. Sekalinya pakai celana gak mau lepas.

Akhirnya kami memutuskan untuk membeli celana yang kira-kira disukai Hamzah. Beberapa celana yang kami belikan ternyata ada yang gak sesuai dengan selera Hamzah akhirnya gak terpakai.

Tapi sekarang saya bisa cukup lega karena Hamzah sudah mau pakai celana.

Toilet Training Tanpa Ngepel Sering-sering


Kalau dibandingkan dengan toilet training kakaknya dulu. Hamzah ini memang lebih sedikit ngepelnya. Mungkin karena dimulai saat usia yang tepat. Meski Hamzah belum berbicara lancar, tapi Hamzah memahami perkataan orang dengan baik.

Jadi kami gak terlalu kesulitan untuk memberikan arahan. Hanya kadang kami sulit memahami maunya apa.

Sekarang Hamzah juga sudah pintar pipis sendiri dan cebok di kamar mandi. Ini sangat membatu sekali saat adiknya masih menyusu sedangkan dia ingin pipis. Bersyukur sekali toilet training Hamzah berjalan cukup lancar dan tanpa ngepel-ngepel yang terlalu sering.

Padahal saya sudah mikir ribet duluan, bakalan capek ngepel dan ini itu. Tapi alhamdulillah semua gak terbukti.

Tapi masih ada satu PR lagi, Hamzah masih belum mau pup di kamar mandi. Kalau mau pup pasti minta pakai popok. Ini memang belum ada jalan keluarnya. Jadi sementara kami masih memberikan popok kalau Hamzah bilang ingin pup.

Mungkin kalau sudah agak besar dan bisa jongkok di WC jongkok dia akan mau pup di kamar mandi.

Kami juga masih belum melepas popok Hamzah ketika keluar rumah, kecuali hanya ke rumah mertua. Ya takut aja nanti tiba-tiba pipis, kan repot, hihihi.

Tips Toilet Training Ala Juvmom



Toilet Training ini memang cukup sulit dan menguras tenaga jadi gak heran sih kalau beberapa orang tua masih maju mundur untuk mulai toilet training. Usia anak juga sangat pengaruh dengan kesuksesan toilet training ini. Dulu Aisyah mulai saat usia 1,5 tahun cukup sulit untuk berkomunikasi dengan Aisyah mengenai pipis ini. Jadi lelahnya minta ampun.

Kalau Hamzah mulai di umur 2,5 tahun. Sudah mengerti banyak hal dan sounding juga dari umur dua tahun.  Jadi sekalinya mulai dia sudah paham. Meski tiap anak berbeda ya. Pernah denger kata anak laki-laki lebih mudah untuk toilet training dari pada perempuan. Entah benar atau gak sih.

Saya punya sedikit tips nih, siapa tahu bisa membantu para mom yang mau mulai toilet training anaknya.

Pertama, jangan lupa ya untuk sounding. Sebenarnya mau melakukan apa pun sounding jauh-jauh hari ini penting banget. Supaya apa? Supaya anak merekam dalam ingatannya apa yang kita inginkan.

Kedua, puji si kecil kalau berhasil pipis di kamar mandi. Apalagi saat awal toilet training pasti anak merasa seperti gak pecaya pada dirinya sendiri. Mungkin gak sih bisa pipis di toilet, begitulah kira2 yang saya pahami dari pengalaman dengan dua anak. Nah kalau si anak masih pipis di celana, jangan langsung dimarahi. Coba beri kata-kata yang positif seperti, "Kakak pipis di celana ya? Ayo nanti kita coba lagi untuk pipis di kamar mandi." Ya seperti itulah, bisa dikreasikan sendiri.

Ketiga, stok sabar yang lebih banyak dari biasanya ini harus. Karena ya perkara pipis ini kan najis ya, sebel sendiri kadang kalau harus liat pipis kececeran. Jadi memang harus sabar. Sempet sih saya gak sabar, terus Hamzah dikasih popok lagi, wkwkwk. Eh ternyata dia gak mau loh dikasih popok. Mau nya pake celana. Ya udahlah kalau gini harus banyak-banyak dzikir biar lupa sama marahnya.

Keempat, beli celana yang disukai si kecil. Tadinya saya tuh pikir mau pakai training pants buat toilet training biar gak kececeran pipisnya. Eh faktanya, ini anak disuruh pakai celana aja susah amat. Apalagi pakai training panst bisa nangis kejer kayaknya, hahaha. Jadi ya udahlah pakai celana yang dulu dia suka. Meski kependekan tapi pokoknya pakai celana.

Kelima, karena masih belajar, lebih baik segera menawarkan untuk pergi ke kamar mandi. Kira-kira saju atau dua jam sekali. Ribet ya? Ya gitulah, pernah kami lupa menawarkan pipis ke kamar mandi, eh ya udah ngucur di pojokan. Ya udahlah, kalau gini saya berusaha gak nyalahin Hamzah. Tapi nyalahin diri sendiri, kenapa dari tadi gak ngajak ke kamar mandi.

Tapi seiring berjalannya waktu, anak akan paham kok kapan harus pipis. Meski tetep kalau kita merasa anak ini terlalu lama gak pipis ya harus ditawarkan ke kamar mandi. Apalagi kalau lagi main, biasanya lupa kalau mau pipis.

Nah itu 5 tips ala Juvmom, hihihi. Semoga membantu ya!




5 komentar

  1. memang susah2 gampang yg tergantung masing2 anak, tp kedau anakku tremasuk yg mudah dari umur satu tahun sdh gak ngompol dan kalau mau ke belakang selalu bilang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tiap anak beda2. Anakku gak aku toilet training pas umur setahunan soalnya lg hamil, gak kuat klo harus ngepel, wkwkwk

      Hapus
  2. Anakku lagi sounding buat lepas nenen dulu mba wkwkkw masih belum selesai nih next PRnya TT semangat semoga aku bisa

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah menyapih ini juga sama beratnya nih, harus tega. Semanga ya mom, semoga bisa, aamiin

      Hapus
  3. Saya belum sama sekali ngajarin anak TT Mba, sedih sih, karena anak pertama dulu lulus TT sebelum 2 tahun dan lepas ASI sebelum 2 tahun juga.

    Anak kedua nih sudah 2 tahun lebih tapi belom apa-apa :(

    BalasHapus

Komentar akan dimoderasi.
Maaf hanya membalas komentar dari author perempuan.